Binaul ‘Izzah

Binaul ‘Izzah

                Membangun harga diri dimulai dari ibadah. Sehingga menghasilkan buah ketaqwaan. Sebaik-baik bekal adalah bekal Taqwa. Sesungguhnya yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Iman itu telanjang dan pakainnya adalah “Taqwa”.

Bagaimana membangun kemuliaan itu?

Dalam surah Ali Imran, kuntum khaira ummah… bahwa Allah menjadikan orang bertaqwa itu tidak sembarangan. Jadi Allah tidak menjadikan kita untuk menjadi manusia  biasa2 saja. Terbaik dalam kapasitasnya, terbaik dalam imannya, bukan terbaik dalam bentuknya. dan

Mulia sebagai manusia.

Mulia dalam arti mengajak bahwa sebagai manusia memiliki kemuliaan diatas makhluk yg lain. Allah berikan rizki yang terbaik untuk manusia. Allah muliakan kita dengan kehidupan yang terbaik.  Allah memuliakan manusia dengan diberikannya akal.

Dalam surah Lukman ayat 20, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” Artinya apa? Allah berikan itu semua karena manusia mampu untuk mengelolanya dan Allah memberikan amanah itu untuk manusia yang tertulis dalam surah al-ahzab ayat 72, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[[1]] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”

Mulia sebagai seorang muslim.

Sebagai pribadi muslim, maka  Allah berikan kemuliaan dan harga diri tersendiri bagi kita, yang tertulis dalam potongan surah al-hujurat ayat 13. Pembentukan kemuliaan seorang muslim berawal dari pembentukan akidahnya. Salimul akidah menjadi shahihul ibadah. Karena mengharapkan Allah, maka mengharapkan seluruh apa yang datang dari Allah. Jadi tidak salah, jika kita berharap pahala dari ibadah kita, tidak salah kita berharap surganya Allah. Semakin baik akidahnya, maka dengan sendirinya ibadahnya benar, dan menghasilkan ketaqwaan.

Mulia sebagai ummat Islam.

Dalam surah al-a’raf ayat 164, “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu[[2]], dan supaya mereka bertakwa.”

Seluruh hidup kita untuk yang baik,  kuliah kita untuk yang baik, nikahnya kita untuk yang baik, makannya kita untuk yang baik. Semua  kebaikan terangkum dalam barokah.  Dari mana? Dari langit dan dari bumi. Seperti yang tercantum dalam surah al-A’raaf ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Dalam surah al-ahzab ayat 36, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Jadi membangun ummat ini dengan membangun:

  1. iman umat ini. Selain itu, membangunnya  dengan
  2. kejujuran. Dan dengan
  3. kepercayaan
  4. dengan cara membangun loyalitas terhadap ummat ini.
  5. dengan ketaatan.
  6.  Bangun iltizamnya (komitmen) terhadap ummat islam,
  7. Bangun harakahnya
  8. Bangun kekuatannya

Dalam surah al-munafiqun ayat 8, “Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”

Dan semua itu dimulai dari da’wah dan tarbiyah. Maka dari itu menjadi sebuah kewajiban bagi aktivis da’wah untuk membina dan berda’wah.


[1] Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.

[2] Alasan mereka itu ialah bahwa mereka telah melaksanakan perintah Allah untuk memberi peringatan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Urgensi Dakwah Akademis bagi Mahasiswa

I. Latar Belakang
Sisi akademis sebagai sisi yang tidak terpisahkan oleh mahasiswa mempunyai peran yang sangat strategis sebagai sarana berdakwah. Jika melihat aktivitas mahasiswa dikampus, kita akan menemukan berbagai tipikal-tipikal mahasiswa, dimana tipikal-tipikal tersebut muncul berdasarkan kecendrungan-kecendrungan yang dimiliki oleh masing-masing mahasiswa. Ada tipikal mahasiswa yang senang berorganisasi (organisatoris) dan memiliki kecendrungan suka me-manage, lalu ada juga yang memiliki kecendrungan hanya belajar saja tidak perlu ikut kegiatan-kegiatan lain karena dikhawatirkan nanti akan mengangu konsentrasi belajar. Mahasiswa tipe terakhir sering disebut sebagai mahasiswa kupu-kupu atau kuliah pulang-kuliah pulang atau sering juga disebut sebagai mahasiswa 3 K (kuliah, kantin, kost). Namun dari kedua tipe tersebut ternyata memiliki alasan masing-masing. Bagi tipe yang pertama mempunyai alasan bahwa dengan hanya belajar saja didalam kelas belum cukup, belajar tidak hanya di dalam kelas saja namun juga di luar kelas yaitu dengan ikut dalam organisasi kemahasiswaan baik ekstra maupun intra, kemudian belajar saja di dalam kelas belumlah cukup, maka perlu didukung oleh kemampuan-kemampuan soft skill lainnya yaitu dengan ikut serta dalam organisasi, dengan berorganisasi potensi soft skill mahasiswa akan lebih terasah dan bisa jadi belum tentu di dapatkan dengan hanya belajar didalam kelas. Kemudian alasan lainnya yakni peran mahasiswa sebagai middle class (kelas tengah-tengah) yang mampu menjadi jembatan antara rakyat bawah (low class) dengan kalangan atas (upper class) yakni pemerintah, juga dengan berbagai macam idealisme dsb. Alasan-alasan yang muncul bagi tipe yang pertama tentunya hanya muncul dari mahasiswa-mahasiswa yang telah mengerti perannya sebagai mahasiswa seutuhnya.

 Selanjutnya alasan-alasan bagi mahasiswa tipe kedua menganggap bahwa tugas mahasiswa cukup fokus belajar di kelas saja, tidaklah perlu untuk menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan sampingan lain yang berpotensi akan menggangu belajar, yang penting lulus dengan segera, IPK cumlaude, dan segera memperoleh pekerjaan. Menurut mahasiswa tipe kedua mungkin sudah terbentuk didalam benaknya suatu image negatif bahwa mahasiswa yang sering disibukan oleh kegiatan lain seperti organisasi kebanyakan memiliki reputasi akademik yang belum baik (jika tidak di sebut buruk), IPK di bawah rata-rata, absensi yang sering bolong-bolong karena terlalu banyak ijin untuk kegiatan-kegiatan organisasi. Inilah mungkin pandangan-pandangan umum yang terbentuk dalam benak kebanyakan mahasiswa terkait masing-masing tipikal tersebut. Walaupun tidak sedemikian ‘saklek’ bahwa mahasiswa organisatoris melulu kalah bersaing di sisi akademik, karena ada juga mahasiswa yang bisa di bilang organisatoris atau aktifis, namun dalam sisi akademispun cemerlang. Namun karena pandangan-pandangan umum mahasiswa lahir dari sebuah generalisasi, dan generalisasi muncul karena hal-hal yang bersifat khusus dalam hal ini yaitu oknum-oknum mahasiswa organisatoris yang bermasalah dalam sisi akademis dengan jumlah yang ‘lumayan’ (jika belum bisa dikatakan bannyak), maka turut menyuburkan dan menghidupkan pandangan-pandangan negatif tersebut.

 Oleh karena itu dengan mencermati pandangan-pandangan yang berkembang dalam pikiran mahasiswa, kita akan memperoleh sebuah gambaran bahwa tantangan dakwah dalam sisi akademis adalah dimulai dengan merubah paradigma berfikir mahasiswa dan orang tua pada umumnya yang telah terbentuk oleh pandangan-pandangan negatif yang sudah tumbuh subur dalam benak mereka. Untuk merubah paradigma ini tentunya para organisatoris (khususnya bagi aktifis dakwah) perlu berintrospeksi diri dan secara bersama-sama kembali memaknai kesyumulan Islam, serta berusaha merubah Image buruk tersebut. Perubahan image (citra) sangat penting karena citra merupakan kualitas atau pembawaan bagi yang membawa citra. Luar biasa citra ini, bahkan musuh-musuh Islam “memporak-porandakan” umat ini hanya dengan politik citra seperti kita tahu bahwa pemimpin-pemimpin Amerika yang anti Islam mencitrakan umat Islam dengan sebutan “Terrorist”, “fundamentalis”, “ekstrimis” dll. Padahal jika dikaji secara bahasa pencitraan yang disematkan terhadap umat Islam tersebut tidak seburuk seperti apa yang dibayangkan umat Islam kebanyakan saat ini atau bisa dibilang istilah-istilah tersebut sebenarnya tidak sesuai pada tempatnya. Namun karena saat ini mereka yang menguasai media sehingga mereka mereduksi makna sesungguhnya istilah-istilah tersebut untuk kepentingan mereka yang dalam hal ini untuk menghancurkan Islam dengan memunculkan citra-citra buruk terhadap umat Islam. Namun dalam hal ini saya tidak akan panjang lebar membahas masalah bahasa dan istilah karena bukan pada tempatnya.

  1. Analisis singkat seputar pembentuk image “mahasiswa akademis” dan “mahasiswa organisatoris”

 Dahulu sebelum diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) pada tahun 1980-an oleh menteri pendidikan pada zaman Orde Baru, pergerakan mahasiswa pada saat itu cukup dinamis. Kampus menjadi basis yang sangat strategis bagi mahasiswa untuk mengontrol dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Kampus menjadi tempat rapat demi rapat mahasiswa untuk menentukan sikap terhadap pemerintah, Aksi dan demo pun menjadi sarana yang paling ampuh sebagai wujud penentuan sikap tersebut. Pemerintah menyadari sikap mahasiswa kian hari semakin meresahkan kedudukannya. Atas dasar kesadaran tersebut pemerintah mencari berbagai cara untuk meredamkan aksi mahasiswa. Sehingga ditemukanlah sebuah cara cemerlang untuk meredam gerakan mahasiswa dengan muncul kebijakan NKK/BKK.

Dengan dikeluarkan kebijakan tersebut, maka dalam hal ini senat mahasiswa (sekarang BEM) sebagai Koordinator kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus tidak bisa leluasa dalam melakukan pergerakan serta kegiatan-kegiatan kemahasiswaan karena mendapatkan kontrol yang ketat oleh pihak fakultas/Universitas. Intel-intel Orde Baru yang bersliweran selalu mengawasi kegiatan-kegiatan mahasiswa dikampus. Sehingga mahasiswa menjadi tidak nyaman dan takut dengan kondisi tersebut sehingga mereka memilih mengambil jalan aman yaitu dengan cara diam. Kalau pun ada aktifis mahasiswa yang berani dan tetap kritis terhadap pemerintah maka ada beberapa kemungkinan yakni “diamankan” oleh pemerintah atau hilang dari permukaan entah kemana tak pernah kembali. Sehingga kegiatan mahasiswa yang sebelumnya dinamis kini diarahkan pemerintah untuk menyibukan diri di bidang akademis dengan alasan menjaga stabilitas dan mendukung pembangunan nasional. Selanjutnya pemerintah juga membatasi masa studi mahasiswa yang sebelumnya tidak ada batasan masa studi kini di batasi. Sehingga mahasiswa semakin sibuk mengurusi akademiknya dan semakin jauh dari peran lainnya sebagai controller terhadap pemerintah. Mungkin dampak kebijakannya sampai saat ini masih kita rasakan walaupun rezim telah berganti dan tekanan pemerintah tidak se-otoriter dahulu. Namun jika diperhatikan jiwa mahasiswa masih terlihat Academic Oriented. Hal ini bisa dilihat dengan monotonnya kegiatan mahasiswa di kampus tidak se-dinamis para senior-seniornya dahulu. Atau singkatnya mahasiswa telah dilumpuhkan atau terlumpuhkan sikap kritisnya secara tersistematis.
  1. Solusi Dakwah Akademis
Dengan memperhatikan permasalahan yang menjadi tantangan dakwah akademis bahwa factor yang paling mendasar adalah image atau pencitraan. Kemudian dengan melihat bahwa sisi akademis sangat potensial untuk sarana dakwah. Maka seharusnya para da’i/da’iyah harus menunjukan kesyumulan Islam bahwa mahasiswa (aktifis dakwah atau secara umum Rohis) juga tidak kalah dari sisi akademis. Kita harus membuktikan dari sisi prestasi mampu mendominasi bahkan secara terus-menerus selalu menjadi yang terdepan. Mungkin usulan konkretnya adalah didalam UKM Rohis lebih difamiliarkn kembali semacam kelompok studi, kelompok diskusi, kelompok karya tulis ilmiah, kelompok penelitian (reaserch club), kelompok enterpreneur, jika memungkinkan bisa di bentuk dari tataran universitas sampai fakultas memiliki departmen-departemen tersebut, serta mengharuskan kepada seluruh pengurus rohis untuk berpartisipasi dan berkompetisi untuk menghasilkan sebuah tulisan atau karya. Kemudian hal yang tidak boleh diabaikan adalah sikap aktifis dakwah dikampus harus berusaha menunjukan keaktifannya serta sikap kritis dengan cara banyak bertanya atau mengungkapkan pendapat. Hal ini tidak bisa di remehkan dalam usaha pembentukan citra da’i/daiyah cerdas. Aktifis dakwah tidak hanya berada di zona nyaman saja namun juga harus menyentuh zona-zona lain yang lebih menantang. Hal ini perlu kita sadari dan kita pahami semua sebagai aktifis dakwah. Kita tidak hanya memahami Islam hanya sebatas ritual-ritual agama saja seperti yang terjadi dalam agama-agama lain.
Namun kita harus menghayati bahwa Islam itu syumul dan mengajarkan ka-tawazun-an (keseimbangan) antara ilmu akherat dan ilmu dunia. Justru sebagai aktifis dakwah kita harus membuang jauh-jauh sikap yang mungkin secara tidak langsung sikap kita telah tersekularisasi oleh ketidaktahuan kita sendiri. Ada kecendrungan di dalam benak kita dikarenakan salah memahami, kita lebih mengutamakan aspek-apek keagamaan saja dan kita cukup merasa puas hanya dengan berhubungan secara vertikal dan sedikit mengabaikan aspek habluminannas dalam hal ini aspek habluminannas yang dimaksud adalah mencetak prestasi dalam ilmu-ilmu keduniaan. Sikap demikian seharusnya di buang jauh-jauh oleh aktifis dakwah. Karena dengan besikap demikian maka kita belum menghayati kesyumulan Islam malah justru mendikotomisasi konsep ilmu dalam Islam. Padahal setahu saya Islam tidak terdapat dikotomisasi konsep ilmu, kita meyakini bahwa sumber ilmu semuanya berasal dari Allah, dan kita akan mendapatkan ilmu itu dengan mempelajari Al-quran. Islam menerangkan bahwa kita adalah umat terbaik (Ali Imran;110), manusia di ciptakan Allah untuk menjadi khalifah (Al-Baqarah:30).

 Oleh karena itu kita yang menyakini bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, seharusnya umat Islam yang memegang tampuk kepemimpinan dunia. Karena kita sendiri telah menyadari bahwa Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh alam. Kemudian wahyu pertama yang diturunkan Allah (surat Al-‘alaq1-5) dengan tegas bahwa Allah memerintahkan umat Islam untuk iqraa’ yang mengandung makna yang sangat dalam bahwa umat Islam harus membaca, tidak hanya memaknai membaca secara denotatif saja, namun memikirkan mengkaji, meneliti (reaserch) secara mendalam segala ciptaan Allah. Dan Allah juga dalam firmannya mengatakan bahwa Ia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat (Al- Mujadilah:11). Jika kita perhatikan kata ‘beriman’ didahulukan oleh Allah dibandingkan kata ‘berilmu’. Sehingga tidak ada pemisahan antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang berilmu dan semakin tinggi iman seharusnya dari sisi ilmu harus mumpuni. Dimana sampai saat ini konsep iman dalam ilmu oleh barat tidak memperoleh tempat. Barat menganggap iman tidak dapat di kategorikan sebagai ilmu. Oleh karena itu saya berkesimpulan bahwa umat Islam haruslah menjadi yang terdepan dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 Dengan mengamalkan perintah serta motivasi-motivasi yang banyak sekali kita temukan dalam ayat-ayat Alquran mengenai dorongan untuk berfikir dan mengkaji segala ciptaan Allah dengan melakukan kegiatan pengkajian dan penelitian. Rohis harus juga mengadakan acara-acara seperti seminar-seminar berbau akademis sesuai dengan bidangnya masing-masing. Jika kita ingin membuktikan kepada umat bahwa Islam itu syamil (sempurna) dan menyeluruh dan bahwa umat Islam memang di ciptakan sebagai umat yang terbaik, mungkin kita bisa menengok sejarah peradaban Islam pada abad pertengahan. Banyak sekali literatur baik dari sudut pandang timur maupun barat yang menulis mengenai kejayaan peradaban umat pada abad pertengahan dan kita sebagai umat Islam harus meneladani sikap para ulama-ulama abad pertengahan tersebut, bagaimana mereka mampu menciptakan peradaban gemilang pada masanya bahkan hingga sekarang karya-karya mereka masih dipakai sebagai rujukan bagi umat padahal karya-karya tersebut dibuat berabad-abad lalu.

  1. Mengembalikan kejayaan umat dengan mencontoh perilaku para ilmuan-ilmuan terdahulu.
Setiap kita pasti menginginkan umat Islam kembali jaya seperti terjadi pada abad pertengahan. Setiap kita memiliki harapan suatu saat akan muncul ilmuan-ilmuan muslim yang lahir seperti Al-Kindi, Ibnu Rushd, Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Khaldun dan ratusan ilmuan-ilmuan muslim lainnya dengan hasil-hasil temuan yang luar biasa dalam berbagai disiplin keilmuwan. Bahkan seorang ilmuwan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Namun pertanyaan nya adalah apakah kita serius menganalisis faktor-faktor apa yang telah mendorong pesatnya ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam?, Lembaga-lembaga pendidikan yang bagaimana yang telah bertanggung jawab atas munculnya ratusan ilmuwan Muslim yang agung di berbagai bidang?, dan apa sistem pendidikan yang diterapkan di sana Selain tiga pertanyaan di atas adalah lagi tiga pertanyaan yang tidak kalah fundamentalnya yaitu kegiatan-kegiatan ilmiah apa saja yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim sehingga mereka telah melahirkan ratusan ribu karya ilmiah di berbagai bidang riser-riset ilmiah yang bagaimana yang mereka lakukan sehingga mereka berhasil mengembangkan berbagai disiplin ilmiah, baik yang berkenaan dengan ilmu-ilmu agama (naqliyyah) maupun umum (‘aqliyyah) dan terakhir metode-metode ilmiah apa saja yang mereka gunakan dalam mempelajarai dan menganalisa berbagai objek ilmu yang berbeda-beda jenis dan sifat dasarnya?. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita akan tahu kunci-kunci sukses mereka. Pertama, faktor-faktor yang mendorong pesatnya ilmu pengetahuan pada masa itu adalah:
(1) Dorongan religius di mana agama Islam sangat menekankan pentingnya bagi umat Islam untuk menuntut ilmu, dengan menjadikannya sebagai kewajiban agama.

(2) Apresiasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap ilmu, ilmuwan dan buku, dan
(3) Patronasi yang sangat besar dan tulus dari para penguasa dan pengusaha terhadap perkembangan ilmu.

 Sebuah bangsa yang tidak lagi mempedulikan kewajiban agama dalam menuntut ilmu, tidak adanya apresiasi yang tinggi terhadap ilmu dan tidak ada pengayoman yang serius terhadap dari para penguasa dan pengusaha terhadap ilmu, maka di sana sulit dibayangkan ilmu pengetahuan akan mendapat kemajuan. Selanjutnya tentang lembaga pendidikan yang di bangun pada masa itu, kita jadi mengenal dua jenis lembaga pendidikan. Pertama lembaga pendidikan formal dan yang kedua informal. Perdidikan formal berupa madrasah (colleges) yang didirikan para penguasa untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Sedangkan lembaga-lembaga informal meliputi banyak jenis: akademi, perpustakaan, rumah sakit, observatorium, dan zawiyyah. Melalui lembagalembaga informal ini maka disiplin-disiplin ilmu umum telah dikembangkan dengan baik. Tentang sistem pendidikan, para ilmuwan Muslim telah mengembangkan metode pengajaran yang khusus, yang sangat berpengaruh pada pesatnya perkembangan ilmu, yaitu menyalin buku, menghafal dan metode debat yang sangat merangsang daya kritis sang murid. Bebarapa poin penting yang saya diskusikan antara lain, motivasi mencari ilmu, yaitu untuk mencari kebenaran, dan bukan sekedar untuk mendapatkan pekerjaan seperti yang berlaku di negeri ini, menyusun klasifikasi ilmu, sehingga tahu peta ilmu dan saling hubungan antara bidang, dan kurikulum, yaitu materi-materi apa saja yang harus dipelajari oleh seorang murid. Adapun tentang kegiatan ilmiah apa saja yang mereka lakukan, kita kemudian mengenal beberapa kegiatan ilmiah yang esensial bagi setiap tradisi ilmiah, yaitu memburu manuskrip, menerjemahkan, membuat komentar atas karya-karya orang-orang terdahulu, menulis karya-karya orisinal yang bukan saja ekstensif tetapi juga sangan intensif, menyalin dan mendistribusi buku, rihlah dan khalwat, sebuah upaya untuk mengeksplorasi dunia fisik dan dunia batin, seminar dan diskusi ilmiah baik yang diselenggarakan di lingkungan istana atau di tempat kediaman seorang sarjana, melakukan kritik baik yang bersifat ilmiah (agama maupun umum), sosial dan politik dn terakhir eksperimen-eksperimen yang menyebabkan ilmuwan-ilmuwan Muslim dipandang sebagai perintis metode eksperiman dalam kegiatan ilmiah mereka. Tentang riset-riset ilmiah yang para ilmuwan Muslim lakukan, kita terperangah akan luasnya bidang yang mereka tekuni. Penelitian atau riset yang mereka lakukan ternyata tidak hanya ada bidang-bidang ilmu keagamaan sebegaimana yang dikesankan selama ini, tetapi juga bidang-bidang ilmu rasional yang melipun ilmu-ilmu fisika, matematika dan metafisika. Ribuan karya telah mereka hasilkan dari penelitian tersebut.1

  1. Tantangan yang harus dihadapi umat Islam dalam sisi akademis
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan merupakan sarana yang sangat penting dalam rangka mengubah peradaban. Pendidikan dalam bebagai tingkatannya merupakan sarana yang efektif dalam membentuk kerangka pikir seseorang. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan saja. Namun juga sebagai sarana transfer nilai-nilai, sikap seseorang dalam berbuat.

 Saat ini kita telah menyadari bahwa dari sisi akademis umat Islam masih jalah bersaing dengan barat. Walaupun memang tidak dapat di pungkiri bahwa saat ini kita telah mengadopsi systematau model pendidikan barat. Namun yang menjadi permasalahan adalah bukan system. Rosulullah mengajarkan kepada kita bahwa dari manapun terdapat ilmu, walaupun ilmu itu berasal dari kalangan non Islam kita harus belajar dari mereka “ tuntutlah ilmu walau sampai kenegeri Cina”. Namun yang menjadi permasalahan adalah isi yang disampaikan cendrung berakar pada kerangka pikir barat yang sekuler dan menjauhkan umat Islam sendiri kepada agamanya. Parahnya lagi saat ini yang menjadi acuan mahasiswa dalam belajar (khususnya di perguruan-perguruan tinggi umum atau swasta yang bukan berbasis Islam) masih menggunakan literature-literatur barat yang filsafat pemikirannya cendrung sekuler.

 Ilmuan-ilmuan barat sekuler tersebut telah familiar di dalam bidang akademik, bahkan telah dijadikan rujukan dalam penelitian-penelitian ilmiah. Ilmuan-ilmuan sekuler tersebut telah menguasai berbagai disiplin ilmu baik dalam ilmu-ilmu eksak maupun ilmu-ilmu sosial. Didalam ilmu-ilmu eksak nampaknya belum terlalu kentara walaupun sudah terasa namun efeknya masih terbilang kecil. Namun yang lebih parah ilmuan-ilmuan barat tersebut sangat terasa dan berpengaruh ddidalam ilmu-ilmu sosial kebudayaan. dalam perjalanan sejarah kita mengenal ilmuan-ilmuan yang bisa dikatakan yang telah mengubah peradaban seperti ilmuan-ilmuan pada zaman Renaisans seperti Rene Deskartes dengan Rasionalismenya, kemudian John Lock dengan empirismenya dll,,, banyak sekali. Ilmuan-ilmuan tersebut melakukan revolusi ilmu pengetahuan dan telah menanamkan teori-teorinya dalam bidang ilmu pengetahuan, kemudian pada zaman aufklarung (zaman pencerahan eropa tahun 1800-an) semakin jelas para ilmuan-ilmuan barat berjaya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, teori-teori mereka semakin tajam dan berpengaruh dalam disiplin keilmuan dan pemantapan dalam sisi metode-metode keilmuan. Kita mungkin telah mengenal tokoh-tokoh ilmuan Eropa seperti Hegel, Karl Marx, Frderick Engels, Aguste Comte, Imanuel Khan, Adam Smith, Freud dan masih banyak tokoh-tokoh ilmuan lainnya. Bahkan sampai sekarang penerus-penerus mereka semakin mengembangkan pemikiran-pemikiran mereka kedalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang tidak mungkin dijelaskan dalam lembar ini. Mereka semua berjaya dalam bidang akademis dan sampai sekarang para mahasiswa di seluruh dunia telah memakai teori-teori mereka dalam segala macam disiplin ilmu termasuk umat Islam. Hal ini tentunya cukup menghawatirkan dalam frame work berfikir umat Islam. Jika sampai saat ini umat Islam tidak jeli dan masih belum sadar akan pengaruh-pengaruh pemikiran ilmuan-ilmuan tersebut, dan tidak berusaha mengantisipasi dengan melahirkan prinsip-prisip keilmuan baru untuk menyaingi mereka maka kemungkinan besar selamanya kita akan menjadi budak intelektual mereka. Walaupun sebagian perguruan tinggi ada yang menerapkan basis Islam, namun jika metode-metode keilmuannya masih mengadopsi metode-metode barat malah akan semakin membahayakan. Hal ini mungkin bisa kita saksikan bersama banyaknya muncul pemikiran-pemikiran aneh dan bertolak belakang terhadap Islam dari para akademisi-akademisi, mahasiswa-mahasiswa perguruan tunggi Islam.

  1. Penutup
Menurut saya jika kita mengamati lebih saksama tantangan terbesar umat adalah justru dalam bidang pendidikan khususnya konten pendidikan itu sendiri. Kita tidak akan bisa merubah peradaban jika konten atau teori-teori keilmuan (teori-teori yang bertentangan) masih sepenuhnya di kuasai oleh ilmuan-ilmuan barat yang cendrung sekuler.

Kita melihat sendiri bahwa moral masyarakat dari hari kehari dimulai dari para pemimpin, akademisi, pengusaha, seniman, sastrawan, dan lainnya masih terwarnai oleh pemikiran-pemikiran barat. Dan secara tidak langsung masyarakat kita telah menjadi budak intelektual ilmuan-ilmuan barat.

Oleh karena itu umat Islam harus dicerdaskan terlebih dahulu dengan cara ilmuan-ilmuan muslim yang telah menyadari keterjajahan dalam bidang keilmuan harus lebih gencar menelurkan karya-karyanya dalam bidang media, penulisan-penulisan, dan penelitian-penelitian ilmiah.

 Catatan kaki
Mulyadhi Kartanegara, 2006, “Masa Depan Filsafat Islam antara cita dan fakta”, paper disampaikan dalam acara ulang tahun Universitas Paramadina yang ke XX di Jakarta pada tanggal 23 November 2006
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Karakteristik Manhaj Al-Qur’an Dalam Dakwah

Karakteristik Manhaj Al-Qur’an Dalam Dakwah

By: Sayyid Quthb

               SELAMA tiga belas tahun penuh, Al-Qur’an diturunkan di Mekah hanya untuk mengupas satu permasalahan, yakni masalah akidah, dengan dua fokus pembahasan utamanya: penuhanan (al-uluhiyyah) dan penghambaan (al-‘ubuudiyyah), berikut hubungan positif antarkeduanya, yaitu manusia.

Permasalahan akidah merupakan permasalahan kemanusiaan yang tidak kunjung ada habisnya. tidak pernah berubah, selalu ada sepanjang wujud kemanusiaan masih tetap eksis di dalam semesta ini. Sebab, ia merupakan permasalahan tentang eksistensi dan perjalanan hidup manusia di semesta ini.

Selama tiga belas tahun penuh, Al-Qur’anul-Makki berusaha menyelesaikan permasalahan besar ini. Dan selama itu pula, Al-Qur’anul-Makki tidak pernah sekalipun melompat pada pembahasan furuu’iyyah (permasalahan-permasalahan cabang), yang berkaitan dengan aturan-aturan pelik sistem kehidupan. Hingga datangnya kehidupan Madinah, yakni pada saat penjelasan akidah ini telah cukup dan membuahkan hasil, dengan munculnya individu-individu pilihan Tuhan yang mampu menjalankan segala ajaran agama sekaligus menegakkan sistem kehidupan riil yang di dalamnya tergambar dengan jelas semangat agama ini.

Sudah sepantasnya bagi para “penyeru” untuk memfokuskan perhatiannya menyelesaikan permasalahan akidah. Rasulullah pun diperintahkan untuk mengawali langkah dakwahnya dengan menyeru kepada manusia agar bersaksi “tiada tuhan selain Allah” (laa ilaha illallaah). Mengenalkan siapa Tuhan mereka sebenarnya, yang patut dijadikan satu-satunya sesembahan mereka.

#dilanjut lain waktu yaaa:)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Generasi Qur’ani yang Istimewa

Generasi Qur’ani yang Istimewa

By: Sayyid Quthb

                Dakwah ini pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitugenerasi sahabat- semoga Allah meridhai mereka. Generasi pilihan dalam sepanjang sejarah Islam dan generasi semacam itu tidak lagi dihasilkan dalam sejarah Islam.

Al-Qur’an yang menjadi jantung dakwah itu ada di tangan kita, begitu juga dengan hadits Rasulullah saw., petunjuk praktis beliau, dan sirah beliau yang mulia. Akan tetapi belum pernah terulang keberadaan generasi semacam itu dalam sejarah. Yang tidak ada hanyalah pribadi Rasulullah saw.. Apakah ini rahasianya?

Simber rujukan generasi pertama itu adalah Al-Qur’an. Sedangkan hadits Rasulullah saw. Dan petunjuknya hanyalah satu bentuk penjelas dari sumber tersebut. Ketika Aisyah r.a. ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., ia menjawab,

Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”  (HR an-Nasa’i)

Apa yang terjadi pada generasi berikutnya? Ternyata sumber rujukan mereka telah berubah menjadi beragam dan bermacam-macam! Sumber rujukan generasi-generasi berikutnya telah tercampur oleh filsafat Yunani dan logika mereka, dan pengaruh peradaban serta budaya lainnya. Dari racikan sumber-sumber itu, tercetaklah seluruh generasi berikutnya sehingga keberhasilan generasi pertama tidak pernah terulang lagi. Itulah yang menjadi faktor utama perbedaan keberhasilan generasi pertama Islam yang istimewa itu dengan seluruh generasi berikutnya.

Ada faktor utama lain selain perbedaan sumber rujukan itu, yaituperbedaan dalam menerima dakwah, dibandingkan dengan generasi pertama yang istimewa itu.

Mereka (generasi pertama) membaca Al-Qur’an bukan untuk sekadar ingin tahu dan sekadar membaca, juga bukan sekadar untuk merasakan dan menikmatinya. Mereka mempelajari Al-Qur’am untuk menerima perintah Allah SWT berkenaan dengan masalah pribadi mereka untuk segera diamalkan setelah mendengarnya, seperti seorang tentara dalam medan perang menerima “perintah harian” langsung ia kerjakan setelah menerimanya!

Perasaan seperti ini, perasaan untuk menerima perintah dan mengerjakannya, itulah yang membuat Al-Qur’an membukakan bagi mereka gerbang kenikmatan dan ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an tidak memberikan khazanahnya kecuali bagi orang yang menerimanya dengan semangat; semangat untuk mengetahui dan menjalankannya. Manhaj mempelajari Al-Qur’an untuk dilaksanakan dan diamalkan isinya itulah yang telah menghasilkan generasi pertama Islam. Sementara, manhaj mempelajari Al-Qur’an semata untuk mengkaji dan menikmatinya itulah yang telah menghasilkan generasi-generasi berikutnya.

Ada faktor ketiga yang patut kita perhatikan dan camkan.

Seseorang, pada masa generasi pertama, ketika ia masuk Islam, ia akan melepaskan seluruh kejahiliahannya di masa lalu. Ada pemutusan emosional secara total antara masa lalu kejahiliahan seorang muslim dan masa kini keislamannya.  Mereka melepaskan kaitan mereka dari situasi dan kondisi jahiliah, tradisinya, pola pandangnya, kebiasaannya, dan ikatan-ikatannya. Sehinngga tekanan pola pandang jahiliah dan adat istiadat masyarakat jahiliah tidak mungkin lagi dapat menggoyahkan mereka.

Saat ini, kita hidup dalam kejahiliahan seperti yang dialami oleh Islam pada era pertama itu atau mungkin lebih kelam lagi. Dengan demikian, dalam manhaj harakah Islam, kita harus membersihkan diri dalam masa pembentukan dan pengkaderan, dari seluruh pengaruh jahiliah yang sedang kita jalani ini.

Kemudian, kita harus membersihkan diri kita dari tekanan masyarakat jahiliah, pola pandang jahiliah, tradisi jahiliah, dan kepemimpinan jahiliah, dalam diri kita. Tugas utama kita adalah mengubah realitas masyarakat kita. Tugas kita adalah mengubah realitas jahiliah ini dari akarnya. Realitas yang bersebrangan dengan manhaj Islami dan pola pandangnya.

Langkah pertama dalam jalan kita ini adalah menciptakan jarak dengan masyarakat jahiliah ini beserta nilai-nilai dan pola pandangnya. Kita jangan sampai mengubah nilai-nilai dan pola pandang kita sedikit pun agar bertemu dengannya di pertengahan jalan.

Tentu kita akan menemukan kesulitan dan kepayahan dalam jalan ini, dan menuntun pengorbanan yang besar dari kita. Namun, kita tidak memiliki pilhan lain jika kita ingin mengikuti jalan generasi pertama Islam yang telah Allah SWT letakkan mereka dalam manhaj Ilahi-Nya dan telah diberikan kemenangan atas manhaj jahiliah.

Seharusnya kita selalu mengetahui sifat manhaj kita ini, sikap kita, dan sifat jalan yang harus kita lalui untuk keluar dari kejahiliahan seperti keluarnya generasi istimewa itu.

#Next to Karakteristik Manhaj Al-Qur’an dalam Dakwah yaaaa:)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Petunjuk Jalan

PETUNJUK JALAN

By: Sayid Quthb

SAAT ini, umat manusia sedang berada di tepi jurang kehancuran. Itu pun terjadi pada Blok Timur sendiri. Teori-teori sosial, terutama marxisme, kini telah amat mundur dari dari segi “pemikiran” dengan jelas,sehingga hampir hanya terpusat pada konsep “negara” dan perangkat pendukungnya yang berarti telah amat menjauh dari dasar-dasar aliran pemiikiran ini.

Oleh karena itu,umat manusia memerlukan qiyadah ‘kepemimpinan’yang baru!

Kepemimpinan orang Barat terhadap umat manusia hampir berakhir masanya. Umat manusia memerlukan kepemimpinan yang mampu mempertahankan dan mengembangkan peradaban materiil yang telah dicapai oleh umat manusia saat ini, melalui kejeniusan Eropa dalam menciptakan kreasi materiil.

Hanya Islamlah yang memiliki nilai-nilai dan manhaj orisinal, positif, dan realistis sekaligus.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…’” (al-baqarah: 30)

“Kamu adalah umat yang terbaikyang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imran: 110)

“Umat Islam” adalah sekelompok manusia yang kehidupannya, pandangannya, sistemnya, nilainya, dan ukuran-ukuran yang mereka gunakan, seluruhnya bersumber dari manhaj Islam. Umat dengan karakteristik seperti itu telah punah semenjak terputusnya penegakan hukum syariat Allah di muka bumi.

Meskipun kondisinya demikian, kita tetap harus mengusahakan “kebangkitan Islam”, sejauh apa pun jarak yang merentang antara usaha pembangkitan dan masa penyerahan tamouk kekuasaan kepemimpinan manusia.

Agar usaha kita menjadi jelas, pertama kita harus mengetahui kemampuan apa yang kita miliki.

Kejahiliahan ini berpijak pada pelanggaran terhadap kekuasaan Allah SWT di muka bumi, khususnya adalah tentang Uluhiyah, yaitu al-Hakimiyyah ‘otoritas kekuasaan’.

Bagaimanakah upaya pembangkitan Islam ini dimulai?

Ia membutuhkan pionir-pionir yang menggerakkan proyek ini dan berusaha menyukseskannya . Pionir-pionir tersebut membutuhkan “petunjuk jalan” yang menunjukkan tugas utamanya, tujuan pokoknya, serta langkah awal bergeraknya.

Petunjuk jalan ini harus disusun dari sumber pertama akidah ini, yaitu Al-Qur’an…

#Selanjutnya baca Generasi Qur’ani yang Istimewa… ya

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar